Saleuëm Teuka lam Ruweuëng Acheh-Sumatra National Liberation Front Perwakilan Nanggroë Malaja

Utusan ASNLF Ikut Pawai Self Determination Di Brussel

Utusan ASNLF Ikut Pawai Self Determination Di Brussel

ASNLF
Bendera Atjeh Berkibar dalam Pawai Self Determination Di Brussel
 Brussels – Delegasi Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF) bersama ribuan simpatisan aktivis demokrasi dan Hak Asasi Manusia melakukan demonstrasi damai di taman Jubelpark, ibukota Belgia, Brussel, Minggu 30 Maret 2014. Demonstrasi yang diselenggarakan oleh International Commission of European Citizens sebagai bentuk dukungan moral dan usahanya untuk menyatukan para aktifis dari empat penjuru dunia yang sedang berjuang menuntut hak penentuan nasib sendiri (Self Determination) untuk bangsa-bangsa mereka.
Informasi yang didapat dari koordinator lapangan pawai, Wilfried Haesen, demonstrasi dan simpatisannya terdiri ribuan orang dan mereka diwakili oleh 12 bangsa-bangsa yang sedang menuntut penentuan nasib sendiri seperti utusan dari Aceh, Britania, Catalonia, Euskal Herria, Lombardia, Skotlandia, Sardinia, Sisilia, Silecia, Süd Tirol, Veneto, Flanders.

Delegasi ASNLF
Sementara itu delegasi ASNLF turut hadir ketua Presidiumnya, Ariffadhillah di Jerman yang datang langsung ke ibukota Belgia, Brussels. Menurut Arif yang dihubungi melalui sambungan telepon Viber, dia menegaskan keikutsertaan ASNLF di Brusels kali ini sebagai solidaritas bahwa hak penentuan nasib sendiri adalah hak dasar dan universal.
”Tidak sepatutnya negara ataupun pemerintah manapun menghalangi keinginan bangsa Aceh untuk menjalankan hak yang termaktub dalam berbagai hukum international ini,” kata Ariffadhillah, Minggu (30/3) di sela-sela keikutsertaan pawai damai tersebut.
”Bahkan bangsa Aceh punya alasan dan bukti kuat menurut hukum international, bukan hanya untuk memperjuangkan hak penentuan nasib, juga hak untuk melepaskan diri,” tambahnya lagi.
ASNLF adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh Tgk Hasan Tiro pada tahun 1976. Sepeninggalnya pada 3 Juni 2010, organisasi tersebut kembali diaktifkan setelah rapat selingkup dunia bangsa Aceh di Denmark pada 6-8 April 2012.
Brussels adalah pusat dari ibukota negara Eropa karena disana terdapat parlemen Uni Eropa yang terdiri dari 28 anggota negaranya. Dalam demonstrasi tersebut para utusan organisasi pembebasan dan simpatisannya kebanyakan membawa bendera masing-masing dan spanduk bertuliskan ”Catalunya is not Spain”.
Saking antusiasnya sampai rombongan warga Catalunya terbang langsung dari Barcelona ke Brussels. Sedangkan perwakilan UNPO (Unrepresented Nations and Peoples Organization) di Brussels menyambut baik kehadiran perwakilan ASNLF sehingga diberikan apresiasi dengan menyebut nama Aceh beserta perwakilan bangsa lain yang hadir di atas podium oleh panitia.
Dalam uraiannya, Ariffadhillah menjelaskan bila misi yang sedang dijalankan oleh ASNLF adalah sepenuhnya menyangkut kelangsungan hidup bangsa Aceh, sebagaimana telah uraikan dalam pernyataan kembali kemerdekaan Aceh pada 4 Desember 1976.
Tuntutan hak menentukan nasib sendiri atau melepaskan diri sedang bergulir, tidak hanya di belahan dunia yang sedang berkembangan di Asia dan Afrika, tapi juga di negara-negara Eropa yang telah mapan, seperti Venesia di Italia, Catalunya dan Basque di Spanyol, Skotlandia di Inggris.
Sebagai buktinya, Arif membeberkan bila baru-baru ini rakyat Venesia sudah melaksanakan Referendum secara online, dengan hasil mayoritas untuk kemerdekaan Venesia dari Italia. Di akhir percakapan teleponnya, mantan dosen Unsyiah tersebut menambahkan bila dalam tahun ini juga akan berlangsung Referendum untuk menentukan nasib sendiri di Catalonia dan Skotlandia. Pawai damai yang mengelilingi pusat kota Brussels itu bermula tengah hari hingga sore tanpa ada pengawalan polisi setempat.
| Laporan Asnawi Ali |



ASNLF BERPIDATO DALAM PANEL ANTARBANGSA PBB DI JENEWA





Wakili ASNLF, Yusuf Berpidato Di Panel Diskusi HAM PBB


Tampak Louis Nousy, Willem Sopacus, Antoni Stango, Yusuf Daud, Martha Meijer
Tampak Louis Nousy, Willem Sopacus, Antoni Stango, Yusuf Daud, Martha Meijer


Jenewa-Wakil ketua presidium ASNLF (Acheh-Sumatra National Liberation Front), Yusuf Daud perpidato  dihadapan para aktivis HAM dalam diskusi yang menyangkut perkembangan HAM di Aceh, Papua dan Maluku pada Jum’at (14/1).Pria Aceh berdomisili di Swedia ini diberikan waktu untuk menjelaskan perkembangan HAM masa lalu di Aceh sebagai pembanding laporan resmi dari Indonesia yang selalu dipublikasikan kepada publik selalu dalam keadaan positif.  Mekanisme perbandingan ini memungkinkan agar para pengambil kebijakan di kantor PBB urusan HAM di Jenewa menjadi lebih objektif, kesempatan yang sama juga diberikan kepada delegasi dari Papua dan Maluku.
Berikut isi terjemahan pidato wakil ketua ASNLF (Acheh-Sumatra National Liberation Front) yang dikutip dari judul asli ”Violations of Human Rights and the Right sto Self-Determination of the People of Acheh”:

Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hak-Hak Penenentuan Nasib Sendiri Bangsa Aceh
Pidato Yusuf Daud, Wakil Ketua,

Front Pembebasan Nasional Aceh Sumatra (ASNLF)

di Palais des Nations, Jenewa, 14 Maret 2014

Saudara Moderator, Tuan-tuan dan Puan-puan sekalian:



Ketua delegasi ASNLF Yusuf Daud (kirI) aktivis HAM internasional Martha Meijer (kanan) pada panel diskusi tentang pelanggaran HAM Aceh, Papua dan Maluku di kantor  PBB, Palais Des Nations, Jenewa, Juma’at (14/3).
Ketua delegasi ASNLF Yusuf Daud (kirI) aktivis HAM internasional Martha Meijer (kanan) pada panel diskusi tentang pelanggaran HAM Aceh, Papua dan Maluku di kantor PBB, Palais Des Nations, Jenewa, Jum’at (14/3).

Pertama-tama saya ingin menyampaikan penghargaan saya yang tulus atas kehadiran anda di sini hari ini. Penghargaan saya juga saya tujukan kepada UNPO dan NRP (Nonviolent Radical Party) yang telah mengorganisasi konferensi ini.

Nama saya Yusuf Daud selaku wakil ketua Acheh – Sumatra National Liberation Front (Front Pembebasan Nasional Aceh Sumatra), yaitu sebuah organisasi pembebasan Aceh yang didirikan oleh DR. Tengku Hasan di Tiro pada tahun 1976, untuk menjamin hak-hak bangsa Aceh dalam menentukan nasib sendiri dan kemerdekaan dari Indonesia.

Sebelum membahas tentang situasi hak asasi manusia di Indonesia, khususnya di Aceh, Maluku Selatan dan Papua Barat, saya ingin menyegarkan kembali ingatan kita dengan mengutipbeberapa kutipan dari Organisasi hak-hak asasi manusia terkenal, berkaitan dengan tiga puluh tahun konflik bersenjata antara Aceh dan Indonesia.

“Kekerasan bisa dipastikan merupakan bagian penting dari sejarah singkat Indonesia. Pemerintah Indonesia telah melanggar hak-hak asasi manusia secara sistematis selama lebih dari 20 tahun dan terus melakukannya dengan impunitas .” (Laporan Asia Watch tahun 1990, dua puluh empat tahun yang lalu)
Amnesty International , Fokus pada Aceh , Juli 1993, dua puluh satu tahun yang lalu, menulis. “….pengabaian terhadap kehidupan manusia merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari cara-cara pasukan keamanan Indonesia melakukan tugasnya . Pembunuhan , penghilangan-penghilangan secara paksa, penangkapan sewenang-wenang , dan penyiksaan telah menjadi undang2 sebagai respon normal terhadap perbedaan politik dan ancaman-ancaman lainnya terhadap keamanan nasional.

Ketua delegasi ASNLF Yusuf Daud (kirI) aktivis HAM internasional Martha Meijer (kanan) pada panel diskusi tentang pelanggaran HAM Aceh, Papua dan Maluku di kantor  PBB, Palais Des Nations, Jenewa, Juma’at (14/3).
Ketua delegasi ASNLF Yusuf Daud (kirI) aktivis HAM internasional Martha Meijer (kanan) pada panel diskusi tentang pelanggaran HAM Aceh, Papua dan Maluku di kantor PBB,Palais Des Nations, Jenewa, Juma’at (14/3).

Organisasi hak-hak asasi manusia Inggris, TAPOL (Bulletin no . 163 , Okt. Tahun 2001, empat belas tahun yang lalu) melaporkan bahwa : “Aceh adalah zona perang terburuk di Asia . Tidak ada bagian dari provinsi tersebut yang tidak tersentuh oleh tragedi dan tidak ada satu keluarga pun yang tidak mengalami penghilangan nyawa , penculikan dan trauma akibat dari konflik tersebut”.
Formulasi di atas merupakan sebagian contoh daripada situasi yang berlaku di Aceh selama era DOM (Daerah Operasi Militer) antara tahun 1989 1998. Dan ini juga menunjukkan bahwa karakteristik nyata dari Indonesia sebagai sebuah kerajaan perampok dalam menangani masalah-masaalah politik dan hukum di Aceh, Papua Barat, Maluku Selatan dan lain-lain.
Kekejaman yang dilakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada bandingannya dalam sejarah Aceh melawan kekuasaan kolonial di masa lalu. Penangkapan sewenang-wenang, pembunuhan diluar hukum, penyiksaan rutin, dan penghilangan daripada ribuan warga sipil sudah tidak asing lagi. Lebih dari 40.000 rakyat Aceh yang tidak bersalah telah kehilangan nyawa dalam tahanan-tahanan militer, di kuburan-kuburan massal tersembunyi, atau di kamp-kamp konsentrasi rahasia.
Setelah satu dekade daripada kebrutalan-kebrutalan ini dan jatuhnya Suharto pada bulan Mei 1998, status DOM yang keji itupun dicabut . Presiden BJ . Habibie dan Jenderal Wiranto mengambil alih kemudi negara dan datang ke Aceh untuk mohon maaf atas ekses-ekses yang dilakukan oleh serdadu mereka. Akhirnya, demokrasi datang ke Indonesia pada tahun 1999 dan era reformasi pun dimulai. Namun sayangnya, perubahan ini tidak pernah sampai ke Aceh. Bagi masyarakat Aceh, tahun 1999 merupakan tahun yang terburuk dalam sejarah kami – tahun yang penuh dengan pembantaian. Kemudian Rezim reformasi memperkenalkan “Operasi Wibawa 99″ yaitu operasi gabungan polisi militer. Kebrutalan-kebrutalan dari operasi ini melampaui apa yang terjadi pada masa DOM.
Sepanjang tahun ini sejumlah pembantaian telah terjadi di Aceh : Pembantaian di Kandang Kabupaten Aceh Utara pada tangga l3 Januari; Pembantaian di Idi Cut Kabupaten Aceh Timur pada tanggal 3 Februari ; Pembantaian Dewantara di Simpang KKA, Aceh Utara tanggal 3 Mei; Pembantaian Beutong Ateueh Kabupaten Aceh Barat tanggal 23 Juli, dan banyak pembunuhan di luar hukum lain yang telah mengambil korban lebih dari seribu nyawa rakyat Aceh hanya dalam waktu satu tahun.
Operasi-operasi militer ini terus dijalankan tanpa berhenti, dengan intensitas dan kebrutalan yang sama, sampai Aceh luluh-lantak diterjangan gelombang Tsunami Samudera Hindia, yang telah mengambil korban lebih dari 200.000 jiwa rakyat Aceh di tahun 2004. Bencana tragis ini telah membawa pihak yang bertikai, Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kepada sebuah kesepakatan damai yang disebut Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki , Finlandia. Salah satu dari sekian banyak ketentuan dalam MoU adalah pembentukan dua lembaga hak asasi manusia: Pengadilan HAM (HRC) dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR).
Enam belas tahun kemudian sejak pencabutan DOM dan lima belas tahun setelah pembantaian massal tahun 1999, tidak ada satu pun dari penanggung-jawab dari pelanggaran hak-hak asasi manusia yang parah ini dibawa ke pengadilan. Hal ini menandakan bahwa pelanggaran semacam itu boleh dilakukan di Aceh dengan memiliki kekebalan hukum. Hampir sembilan tahun setelah kesepakatan Helsinki ditandatangani, tidak ada yang berubah sehubungan dengan perlindungan hak asasi manusia dan penyeselesaian pelanggaran masa lalu oleh pasukan keamanan.
Bulan lalu, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh telah meluluskan sebuah qanun tentang KKR, dan Jakarta belum menyetujuinya. Namun, Human Rights Watch sudah duluan menyatakan bahwa “Pelanggaran HAM di Aceh terlalu serius untuk ditangani hanya oleh Komisi Kebenaran dimana mereka tidak bisa menjalankan hukuman pidana. Negara memiliki kewajiban di bawah hukum internasional untuk mengadili pelanggaran serius hak asasi manusia dan penjahat-penjahat perang”.
Amnesty International dalam laporan terbarunya terhadap perkara di Acheh (Sudah Masanya Menghadapi Masa Lalu, April 2013 ) mengatakan : “Konflik tersebut tetap menyisakan luka terbuka – kebanyakan nasib dari mereka yang tewas masih tak diketahui, pelaku pelanggaran hak asasi manusia masih berjalan dengan bebasnya”.
Mantan direktur Asia Human Rights Watch, Brad Adams menyatakan dalam laporan Mei 2006: “Para pemimpin militer yang melakukan kejahatan di Aceh telah dinaikkan pangkatnya, bukannya dihukum,” katanya. “Sudah saatnya untuk mengakhiri ini – pribadi-pribadi dari kedua belah pihak yang melakukan pelanggaran serius harus bertanggung jawab … Masyarakat internasional telah menerapkan keadilan bagi pelanggaran di masa lalu di Timor-Timur, serta di Rwanda , Sierra Leone, dan bekas Yugoslavia”. “Mengapa Aceh harus diperlakukan berbeda?” ia bertanya-tanya.
Ada sesuatu yang tidak beres dengan negara salah urus ini yang bernama ”Indonesia” dan kita heran bagaimana dan mengapa rezim brutal ini telah mampu melakukan kejahatan keji tersebut dan tidak tersentuh hukum selama 64 tahun terakhir ini?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali ke akar-akarnya, ke sejarah bagaimana kepulauan Melayu yang sangat luas ini menjadi sebuah negara.
Tuan-tuan dan Puan-puan sekalian, saya berharap anda akan bersama dengan saya selama beberapa menit kedepan, untuk memeriksa secara obyektif bagaimana tragedi ini telah dilakonkan.
Pelanggaran awal dari prinsip-prinsip PBB pertama sekali dilanggar setelah Perang Dunia ke-II yaitu periode dekolonisasi. Manakala semua wilayah jajahan kekuasaan Barat dikembalikan kepada bangsa-bangsa asli dan mejadi negara merdeka, Hindia Belanda tidak dikembalikan kepada masing-masing pemilik asli dimana Belanda telah merampas wilayah-wilayah tersebut sebelumnya.
Pada tanggal 27 Desember 1949, Belanda memberikan seluruh bekas wilayah jajahan Hindia Belanda kepada entitas pura-pura ”Republik Idonesia” yang berbasis di Jakarta, bukan kepada pemilik yang sah masing-masing, sebagaimana telah ditentukan oleh badan PBB urusan dekolonisasi. Dengan demikian, Indonesia telah menjadi satu-satunya negara penerus terhadap imperium kolonial Hindia Belanda, dengan wilayah kolonial sebesar benua Eropa, dari Moskow hingga ke Lisabon. Secara definisi, tak bias dipungkiri bahwa negara sambungan dari kerajaan kolonial juga merupakan kerajaan kolonial itu sendiri.
Indonesia sebagai sebuah negara neokolonialis sebesar itu dan dengan dukungan dari negara-ngara Barat dan AS, negara tersebut telah berhasil bertahan dan berlangsung begitu lama dengan cara menumpahkan darah bangsa-bangsa kami Aceh di bagian paling utara Sumatera hingga ke Papua Barat di bagian Timur dari kepulauan Melayu, dengan Maluku Selatan dan Sulawesi di tengah-tengah, dengan jumlah 3 juta orang mati dibunuh secara tidak sah oleh pasukan keamanan Indonesia.
Negara kami, Acheh Sumatera telahpun menjadi negara merdeka yang diakui secara internasional dan merupakan pusat kerajaan yang kuat selama beberapa abad sebelum kedatangan kekuatan Eropa ke Asia Tenggara. Dan dengan lebih dari 6 juta jiwa penduduknya, Aceh juga menyimpan sumber daya alam yang berlimpah seperti: minyak, gas, emas, platinum, timah, karet dan lain-lain.
Larouse Grand Dictionnaire Universelle menggambarkan Kerajaan Aceh sebagai “Bangsa yang paling dominan di Hindia Timur menjelang akhir abad keenam belas sampai paruh pertama abad ketujuh belas” (Volume 1, p.70, Paris 1886).
Tiga ratus tahun setelah Belanda bertapak sebagai tuannya penjajah di Pulau Jawa dan ke atas wilayah-wilayah Hindia Belanda yang sekarang disebut ‘Indonesia’, Aceh masih sebuah negara merdeka yang diakui secara internasional dan memiliki hubungan diplomatik dengan semua negara yang ada dunia.
Prof M.C. Ricklefs, menulis dalam bukunya yang berjudul A History of Modern Indonesia (Sejarah Modern Indonesia): “Aceh telah muncul sebagai kekuatan utama, yang paling kuat, kaya, dan daerah yang subur makmur.” (Bloomington ,1981).
Ketika sebagian besar dari kepulauan Melayu telah dimasukkan ke dalam kerajaan kolonial Belanda, Aceh merupakan salah satu daerah yang paling sulit bagi Belanda untuk mentaklukkan nya. Setelah Jepang menyerah kepada tentara sekutu pada bulan Agustus 1945, Belanda berusaha untuk mengambil kembali bekas imperium kolonial mereka, tapi Aceh adalah satu-satunya wilayah di mana Belanda tidak pernah mencoba untuk merebut kembali. Pada tanggal 27 Desember 1949, tujuh tahun setelah penarikan mereka dari Aceh, Belanda menandatangani sebuah perjanjian dengan negara buatan baru yang beranama “Indonesia”dan mentransfer kedaulatan semu mereka atas Aceh kepada Indonesia, tanpa melaksankan jajak pendapat atau referendum dan konsultasi dengan rakyat Aceh sendiri, dan hal ini sama sekali bertentangan dengan prinsip-prinsip dekolonisasi PBB. Beginilah caranya mereka memasukkan Aceh ke dalam Indonesia dengan cara tidak sah.
Berdasarkan status sejarah Aceh yang dipapar di atas sebagai sebuah negara merdeka, dan atas dasar peleburan tidak sah Belanda terhadap Aceh ke dalam Indonesia, Front Pembebasan Aceh-Sumatra Nasional/Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF) kemudian didirikan pada tahun 1976 dan pendeklarasian kembali Aceh Merdeka dikeluarkan pada tanggal 4 Desember di tahun yang sama.
Pendirian kembali Aceh sebagai Negara suksesor didukung oleh sejumlah Resolusi PBB, di antaranya adalah Resolusi 1514 yang menetapkan:
a. Kedaulatan dalam suatu penjajahan tidak terletak di tangan kekuasaan kolonial, tetapi di tangan orang-orang dari koloni yang diberikan.
b. Kedaulatan atas wilayah kolonial tidak dapat dipindahtangankan oleh salah satu kekuasaan kolonial kepada kolonialyang lain.
c. Semua kekuasaan harus dikembalikan oleh kolonialis kepada orang-orang asli dari setiap koloni.
Dan Resolusi PBB nomor 2621 (XXV) lebih lanjut menegaskan bahwa kolonialisme dianggap sebagai “kejahatan internasional” dan hal itu adalah merupakan hak melekat semua bangsa terjajah untuk melawan penjajah.
Konflik Aceh dan perjuangan rakyat Aceh merupakan perjuangan politik. Perjuangan ini adalah perjuangan penentuan nasib sendiri, perjuangan kelangsungan hidup Aceh sebagai sebuah bangsa; perjuangan ini lahir akibat penjajahan selama berabad-abad dan puluhan tahun atas penindasan dan ketidakadilan di bawah rezim Indonesia. Dengan demikian, penuntasan pelanggaran HAM di Aceh harus dimulai dengan menyelesaikan masalah politik terlebih dahulu, dengan mengungkap status Aceh vis a vis Jakarta, yang tidak boleh tidak didasarkan pada hak penentuan nasib sendiri rakyat Aceh untuk menentukan masa depan mereka sendiri .
Sekitar enam puluh dua tahun lalu, PBB telah mengadopsi resolusi (PBB Resolusi 637-A ,18 Dec. 1952) berkenaan dengan pemecahan masalah hak-hak asasi manusia : “Hak hak masyarakat dan bangsa untuk menentukan nasib sendiri adalah suatu kondisi awal dari realisasi penuh hak azasi manusia”. Di sini sekali lagi, esensi dari hak untuk menentukan nasib sendiri adalah sedemikian rupa sehingga tanpa memprioritaskan hak dasar ini, semua hak-hak lainnya termasuk hak-hak azasi manusia tidak dapat dipenuhi dan diwujudkan secara bertanggung jawab.
Reporter Khusus PBB menekankan bahwa “pelaksanaan yang efektif dari Hak rakyat/bangsa untuk penentuan nasib Sendiri adalah satu syarat penting…bagi wujud murni hak-hak azasi manusia dan kebebasan-kebebasan lainnya”. (Reporter Khusus PBB tentang hak atas penentuan nasib sendiri Doc.E/CN.4/Sub.2/405/Rev.1/1991)
Kezaliman rezim kolonial abad ke-21, seperti Indonesia, sering menganggap hak azasi manusia dan hak untuk menentukan nasib sendiri sebagai antitesis dari keutuhan wilayah negara. Tak bisa dipungkiri bahwa integritas teritorial suatu negara diakui oleh hukum internasional, tapi hak azasi manusia, termasuk hak untuk penentuan nasib sendiri, juga merupakan bagian integral dari hukum internasional dan menurut definisi harus menjadi perhatian yang sah dari masyarakat internasional. Ini juga merupakan prinsip utama dari hukum internasional bahwa legitimasi kontrol negara atas suatu wilayah tergantung pada bagaimana wilayah-wilayah itu diperoleh. Dalam kasus Aceh, wilayah itu secara tidak sah diduduki oleh Belanda dan kemudian diserahkan kepada negara yang baru dibuat Republik Indonesia setelah Perang Dunia II, tanpa proses hukum internasional dan undang-undang tentang dekolonisasi.
Hak Aceh untuk dikembalikan sebagai negara merdeka ditegaskan lagi oleh UNESCO doc. 23, 1990, para. 42, sebagai berikut: “Hal ini diterima secara luas bahwa sekelompok orang yang saat ini mengalami pendudukan militer yang secara tradisional telah membentuk bangsa sendiri atau telah menjadi bagian dari bangsa yang berbeda dari yang yang menempati itu, berhak untuk menyatakan atau untuk mengembalikan penentuan nasib sendiri.”
Mengingat fakta tragis bahwa kemerdekaan bangsa Aceh telah mengalami penindasan berabad-abad oleh penjajah Belanda, Jepang dan Indonesia, tidak sulit untuk memahami mengapa bangsa Aceh sangat percaya bahwa kemerdekaan adalah satu-satunya cara ke depan dan referendum yang bebas merupakan salah satu cara demokrasi untuk menyelesaikan konflik. Oleh karena itu adalah tanggung jawab dari masyarakat internasional, termasuk PBB, untuk mendukung dan menegakkan hak-hak orang Aceh. Dan itu juga merupakan tugas PBB untuk menjamin hak-hak azasi manusia dan politik dari bangsa Aceh yang dirampas oleh Indonesia atas dasar “integritas wilayah” dan “urusan internal” Republik Indonesia.(RP|Asnawi Ali)

Ucapan Tahniah Keberhasilan Musyawarah Perdana ASNLF/AM Seluruh Aceh - Acehnationalpost.com

Ucapan Tahniah Keberhasilan Musyawarah

Perdana ASNLF/AM Seluruh Aceh 

Banda Aceh_ANP: Seluruh anggota ASNLF/AM Malaysia menyampaikan ucapan tahniah yang sangat tinggi kepada ASNLF/AM di Aceh yang telah berhasil menggelar musyawarah perdana di seluruh Aceh pada 25 Mei 2013 yang berlangsung di Kutaraja.
anpn
Sekretariat ASNLF/AM Peuwakilan Malaja

Hal ini di sampaikan melalui Siaran Pers (Rilis) yang di kirim ke email Aceh National Post.com 20 Juni 2013

Menurut Sekretariat ASNLF/AM MALAJA di malaysia Musyawarah perdana yang dipimpin oleh Teuku Agam selaku koordinator ASNLF/AM di Aceh, dihadiri oleh perwakilan ASNLF/AM dari seluruh wilayah.

Semua peserta adalah para pejuang yang akan melanjutkan perjuangan kemerdekaan Aceh setelah ditinggalkan oleh puak-puak pro RI yang telah meleset jauh dari tujuan asal perjuangan Atjèh Meurdéhka.

Dengan terbentuknya jaringan di tiap-tiap wilayah di Aceh dan perwakilan di berbagai belahan dunia, serta dukungan bangsa Aceh, kami sangat yakin rencana-rencana kerja yang telah disusun akan lebih mudah diimplementasikan.

Namun keberhasilan musyawarah ini membuktikan, bahwa ASNLF/AM masih tegak berdiri dan terus berjuang untuk mewujudkan cita-cita bangsa Aceh dengan cara-cara non-kekerasan (non-violence).  ASNLF/AM sama sekali tidak  bertujuan untuk menghancurkan perdamaian, seperti mana yang ditudingkan oleh pihak-pihak pro RI, tetapi justru mencegah timbulnya perang saudara (pertumpahan darah) di antara sesama rakyat Aceh.

“ Kami juga menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada seluruh peserta musyawarah, yang telah melakukan konsolidasi pergerakan ini dengan kerja-kerja yang terarah,” jelasnya.

ASNLF/AM perwakilan Malaysia sangat terharu dengan keberhasilan musyawarah ini yang secara otomatis akan memberikan pengaruh yang sangat baik kepada seluruh perwakilan ASNLF/AM di seluruh penjuru dunia dalam melakukan perjuangan diplomasi serta lobi international.

Untuk mengenang keikhlasan para syuhada ASNLF/AM menyerukan kepada seluruh bangsa Aceh agar menyusun kembali kekuatan perjuangan bangsa aceh yg tertunda, bukan damai dalam NKRI dan melupakan keadilan atas pelanggaran-pelanggaran HAM.

perwakilan ASNLF/AM di Malaysia sangat mengharapkan memerdekakan Aceh secara beretika, serta sesuai dengan hukum-hukum international.

“ Mari sama-sama kita pikul amanah suci ini dengan penuh tanggung jawab, fokus, terbuka dan menerapkan komunikasi yang lebih intens agar masyarakat Aceh tidak lagi terbuai dengan slogan “sibak rukok teuk ka meurdéhka''.

Sekarang adalah masanya kita bangsa Aceh berjuang meraih cita-cita kita dan semoga  ALLAH SWT meridhai perjuangan pembebasan ini.( Rilis)
- See more at: http://www.acehnationalpost.com/bandaacehanp/6133-ucapan-tahniah-keberhasilan-musyawarah-perdana-asnlf-am-seluruh-aceh.html#sthash.8ezgXr9B.5KjM577g.dpuf

Ikrar 4 Desember Keu geuntajoë Peuingat Uroë ulang thôn samboëng Perjuangan Bangsa Atjèh


Amanat Ketua Presidium ASNLF

pada hari ulang tahun Aceh Merdeka ke-36


Bismillahirrahmanirrahim

Assalammu’alaikum w.w.

Yang saya muliakan semua bangsa Aceh di seluruh dunia.

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT, yang sudah memberikan nikmat hidup, langkah dan rezeki kepada kita semua. Salawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW. Begitu pula kepada para syuhada, kita panjatkan do’a semoga dilapangkan kuburnya dan mendapatkan syurga.

Pada tanggal 4 Desember ini, sama-sama kita memperingati hari proklamasi kemerdekaan Aceh. Hari yang begitu bersejarah bagi bangsa Aceh dalam abad ini. Hari ini dapat kita gunakan untuk mengevaluasi usaha kita dalam mengembalikan daulat bangsa Aceh dan sudah tentu pula dapat kita gunakan untuk merancang apa-apa yang harus kita lakukan agar dapat sampai pada tujuan tersebut.

Akhir tahun yang lalu kita sepakat untuk mengumpulkan rekan-rekan yang setia ke perjuangan di bawah payung perjuangan Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF) atau dalam bahasa Melayu kita sebut Aceh Merdeka (AM).

Empat bulan setelah itu, pada tanggal 6-8 April 2012, kita telah berhasil bermusyawarah dengan hasil keputusan-keputusan penting yang menentukan bagaimana dan siapa yang meneruskan kerja-kerja perjuangan Aceh Merdeka. Dalam masa tiga hari tersebut, telah kita sahkan sebuah konstitusi sebagai pegangan kita semua dalam barisan ini, supaya kerja-kerja yang kita laksanakan dapat lebih teratur, terencana dan tidak bergeser ke arah yang bukan dalam tujuan mendirikan daulat bangsa.

Pada hari terakhir, peserta musyawarah ini telah memilih ketua, wakil ketua, dan juga anggota-anggota presidium, sebagai salah satu badan ASNLF untuk melaksanakan amanah-amanah perjuangan Aceh Merdeka.

Dalam masa kerja delapan bulan ini, pihak presidium telah mengambil langkah-langkah konsolidasi ASNLF, memperkenalkan diri pada badan-badan yang berkaitan dengan masalah Aceh dan yang paling penting adalah pemberitahuan dan pemberian penerangan kepada rakyat dan bangsa Aceh, bahwa perjuangan Aceh Merdeka masih berdiri dengan kokoh, belum lagi berakhir.

Untuk meningkatkan kemampuan kerja pengurus dan menjalin hubungan dengan pihak-pihak lain, ASNLF telah mengirim peserta dalam acara-acara pelatihan, misalnya dalam acara-acara yang diadakan oleh United Nations Human Rights Council (UNHRC) di Jenewa, Swiss dan Unrepresented Nations and People Organization (UNPO) di Belanda.

Berbagai media seperti website, blog, facebook, buletin pun telah kita buat dan kita gunakan untuk penerangan masalah dan alasan Aceh Merdeka dan publikasi berita-berita resmi ASNLF.

Pada awal kita bergerak kembali, ramai yang belum mengerti apa dan mengapa kita mengaktifkan kembali ASNLF, malah sering kita terima kata-kata penghinaan, terutama dalam akun facebook kita. Namun, dengan usaha-usaha penerangan yang kita lakukan secara teratur dan tidak henti-hentinya, dapat kita lihat adanya perubahan cara pandang dan cara berfikir orang-orang tersebut. Media-media yang ada di Aceh pun sudah sering memuat berita-berita tentang kita.

Walaupun begitu, masih banyak sekali pekerjaan dan masih sangat banyak orang yang dibutuhkan untuk bisa kita katakan bahwa perjuangan AM akan berhasil. Ramai yang bertanya, “Sejauh manakah sudah perjuangan AM?”. Waktu kita tanyakan kembali pada orang tersebut, “Apa yang sudah saudara perbuat hari ini untuk perjuangan AM?”. Sering sekali orang tersebut tidak  mampu memberikan jawaban.

Apakah pernah terpikirkan oleh kita bahwa kemerdekaan Aceh akan datang begitu saja, tanpa usaha? Apakah pekerjaan besar ini akan mampu dijalankan oleh beberapa orang saja? Saya yakin, kita sepakat, bahwa Aceh tidak akan merdeka tanpa usaha dan do’a dari kita semua. Jadi sudah sepatutnya kita laksanakan agenda-agenda kerja ASNLF bersama-sama, menurut ilmu, serta kemampuan yang ada pada diri kita masing-masing.

Keyakinan kita dan tidak ragu-raguan hati kita dalam memerdekakan tanah leluhur kita adalah modal dasar dalam melaksanakan pekerjaan ini. Walaupun begitu, tidak dapat kita kesampingkan, bahwa kemampuan ekonomi adalah salah satu faktor penting yang menentukan apakah agenda-agenda kerja mampu ataupun tidak dapat kita laksanakan.

Dalam hidup kita ada masa senang, ada masa susah, ada masa berhasil, dan ada masa patah hati. Kegagalan sampai pada kekecewaan dalam perjuangan Aceh Merdeka adalah seperti masalah-masalah lain dalam hidup sehari-hari. Kita selalu ada harapan berhasil, kalau kalau kita mampu berdiri teguh kembali. Harapan Aceh Merdeka hanya akan punah kalau kita berhenti dalam berusaha (menyerah).

Perubahan dalam sejarah politik dunia dapat kita saksikan, begitu banyak contohnya, bahwa tidak ada masalah yang tidak mungkin dalam dunia ini.

Sebagai contoh, Skotlandia, salah satu negara dan bangsa di Eropa, walaupun sudah disatukan ke dalam kerajaan Inggris Raya selama lebih dari 300 tahun, mereka tidak menyerah dalam memperjuangkan  kemerdekaan. Bahkan pada tahun 2013 akan diadakan sebuah referendum untuk menentukan kemerdekaan negeri tersebut.

Dalam pekara ini sudah sepatutnya kita berfikir dan mengambil pelajaran, mengapa bangsa Skotlandia tersebut menginginkan kemerdekaan dari Inggris, yang kita sadari sebagai suatu negeri yang sangat maju di dunia ini. Seperti yang kita ketahui Skotlandia sendiripun rakyatnya sejahtra dan negerinya merupakan salah satu pusat ekonomi di Eropa.

Contoh lain adalah Katalania, salah satu bangsa lain di Eropa, dengan klub sepak bola yang sangat terkenal dan kota besar Barcelona, mereka juga sedang berusaha untuk memisahkan diri dari Spanyol. Katalania sendiri adalah salah satu wilayah industri dan perdagangan yang sudah maju, tapi tetap menginginkan untuk berdiri sendiri, merdeka dari negara Spanyol.

Dari kedua bangsa tersebut, dapat kita lihat dengan jelas bahwa keinginan bangsa-bangsa tersebut untuk merdeka tidak bergeming, walaupun sudah begitu maju dan makmur. Bagaimana dengan kita bangsa Aceh? Apakah sudah cukup atawa boleh seperti itu?

Pada akhir bulan Agustus 2012, kita telah mengajukan permohonan untuk kembali menjadi anggota UNPO, agar ada pegangan yang lebih kuat untuk melakukan hubungan dengan pihak-pihak lain di tingkat internasional. Baru-baru ini, pada tanggal 28 November 2012, pihak ASNLF sudah diundang oleh pihak UNPO untuk menyampaikan berita masalah Aceh.

Hal ini bermakna bagi kita bangsa Aceh untuk lebih giat dalam bekerja dan juga agar lebih teratur, supaya cita-cita untuk mengembalikan daulat bangsa kita cepat berhasil di tanah pusaka. Akhir kata, salam rindu kami ke pada seluruh bangsa Aceh yang masih setia pada perjuangan leluhur dimana saja berada di dunia ini.

4 Desember 2012

Ariffadhillah
Ketua Presidium

*Terjemahan dari salinan resmi berbahasa Aceh

Ucapan Duka Tjita Keu Ulama Kharimatik Atjèh ABU PANTON

Innalillillahi wainnalillahjirajiun

Ka Geuwoë nibak Allah salah si droë ulama kharismatik atjèh H.IBRAHIM BARDAN (ABU PANTON) Bak poh 18.30di Rs Herna Medan,semoga mandum amalan ibadah gobnjan geuteurimông di sampèng ALLAH SWT.

Abu njang merupakan salah saboh peunerang keu geutanjoë ureng atjèh nibak ta mita djalan njang trang dan geu ridha lè ALLAH SWT,dan ta harap akan na geulantoë gobnjan njang djeut keu seuneloeh keu geutanjoë atjèh dalam ta meu udèp ateuh rueng bumoe atjèh.

Kamoë Sèkrètariat ASNLF Sagoe Malaja.rajeuk that meu ucap beulangsungkawa kamoë keu ayahanda Abu Panton seumoga keluarga njang geutinggai beu sabè tabah nibak menghadapi cubaan njoe,

Sidroë-droë ulama atjèh ka geuwoë nibak sang khalik,ukeue mandum bangsa atjèh njang meutuah djak geutanjoë tjegah seugala maksiat dan kedzaliman di nanggroe Atjèh njang mulia, ngat djet geutanjoë seulamat mandum dari azab Allah SWT

Sigoe teuk Ngon lafai Al fatihah Sèkrètariat ASNLF MALAJA meu ucap rajeuk that duka cita kamoe khusus djih njang na di nanggroe malaja.wassalam

Malaja,29/4/2013
Musafir

Sèkrètariat Asnlf Malaja

Pendidikan Atjèh Ulèh Dr Husaini Hasan


BASA ATJÈH LAM TULÉHSAN

Dr. Husaini Hasan

Narit peu-intat

Basa Atjèh, djameun geutuléh deungon tuléhsan arab atawa deungon alfabet arab
njang geuseubôt deungon kheut Djawoë atawa Djawi lam basa meulaju. Lagèë basa
Iran, basa Urdhu, basa Meulaju. Su njang hana dalam alfabet arab ka geupeugot
modification (geu-ubah batjut) saban lagèë tuléhsan Djawi Meulaju. Na persamaan
dalam tuléhsan antara Djawi Meulaju deungon Djawoë Atjèh. Keubit basa Meulaju
njan keuh basa njang toë that deungon basa Atjèh. Basa Meulaju leubèh madju
sabab awaknjan ka meurdéhka. Dji Teungku Atjèh djinoë ka djeuët keu lamiët gob
(lamiët Indonosia) dan ka geupeunjum hina geuh bak geumarit basa droë, basa
Atjèh, peuë lom bak geuteumuléh tjit ka handjeuët lé, maka basa Atjèh djinoë karab
gadoh dalam dônja. Meunjo geutanjoë Atjèh keudroë-teuh hana ta peubéasa lé ta
meututô basa Atjèh, panè bansa laén djidjak peugabuëk droëdjih djidjak meututô
basa geutanjoë. Alahkeuh Beulanda (musôh Atjèh djameun) mantong djikeubah
kitab-kitab djameun njang geutuléh lé ureuëng-ureuëng tuha geutanjoë hingga hana
putôih seudjarah geutanjoë. Indonosia njan tjit djipaksa geutanjoë Atjèh marit "basa
indonesia"(basa melaju njang ka djipeu-Djawa, lam kheuët dan dalam narit; le njang
ka djilawok-lawok ngon basa Djawa), djikeumeung peuhabéh geutanjoë bèk tinggai
meu-euntjit, supaja bèk ta tusoë soë droëteuh lé, hingga djeuët djitjok nanggroë
geutanyoë deungon hana ta meulawan. Basa Atjèh nakeuh salah saboh bagian
nibak identitet geutanjoë Atjèh.

Neuduëk sastra Atjèh nakeuh paléng manjang didalam sastra basa melaju, le njang
djipeusapat dan djikeubah lam museum di Holland, leubèh2 lom lam museum rajek
di Leiden. Uboë nibak bansa Beulanda njang aktif bak sidék peukara Atjèh (supaja
djeuët djipeutalô Atjèh) nakeuh Snouck Hurgronje. Djihnjan keuh njang juë Husein
Jayadiningrat untôk peugot saboh kamuih Atjèh-Beulanda, dua boh djiléd teubaiteubai,
disinan djeuët ta eu pakriban kaja basa geutanjoë dan tjukôp deungon
idiomatic dan puisi. Meunantjit deungon hikajat-hikajat Atjèh; lagèë: Hikajat Putroë
Gumbak Meuih, Hikajat Asai Padé, Hikajat Malém Dagang, Hikajat Aulia Tudjôh,
Hikajat Kisah Ulat, Hikayat Potjut Muhammad, Hikajat Banta Beuransah, Hikajat
Malém Diwa, Hikajat si Lindông Geulima, Hikajat Putroë Naga ngon Teungku di Lhôk
Tapak Tuan, Kitab Bungong Situngkôi, Hikajat Ranto, Hikayat Teungku di Meukék,
Hikajat Banta Lidan, Hikajat Putroë Peukisôn, dll. ladôm na djipeusapat dalam Institut
basa dan budaja bansa Nanggroë Beulanda di Leiden( Koninklijk Instituut voor Taal-,
Land- end Volkenkunde).

Sibeutôidjih malèë teuh geutanjoë generasi Atjèh djinoë pajah ta djak meureunoë
basa dan seudjarah Éndatu teuh keudéh u Beulanda, musôh Éntu geutanjoë
djameun. Peuë ta peugot teuma salah droëteuh hana ta hôreumat dan hana ta bôh
jum keu keureubeuën Éntu teuh njan, njang ka neubri keu geutanjoë. Bahthat pih
meunan ka pajah ta bri teurimong geunaséh geutanjoë keu Bansa Beulanda sabab
ka djikeubah deungon got that pusaka Éndatu geutanjoë lé djih. Adak meukon
lagèënjan le that ka putôih seudjarah Atjèh.
Loghat(Dialèk) basa Atjèh na matjam-matjam, lagèë loghat Atjèh Rajek, loghat Pidië,
loghat Pasè, loghat Tapak Tuan(loghat djamèë), loghat Teumiëng dlst. Lagèë loghat
Melaju na loghat Melaju Atjèh, Melaju Deli, Melaju Kelantan, Melaju Perléh, Melaju
Petani,dlst. Meunantjit ta kalon basa Inggréh, na loghat Amerika, loghat British,loghat
Irish, loghat Australia, loghat Inggréh India dll. Bandum loghat basa njan saban got
dan makén le matjam makén mangat bak ta deungo. Loghat njang lôn ngui bak tjara
dasar teumuléh basa Atjèh njoë nakeuh loghat Pidië. Hana djeuët keu peukara, peuë
mantong loghat njang ta meututô watèë ta teumuléh djeuët ta peuseusuai deungon
huruh-haraih dasar njang ka na.

Tjara teumuléh Djawoë hana panjang ulôn rawi disinoë sabab njan djeuët neubeuët
keudroë nibak Kitab-kitab Djawi Meulaju njang hana djeu-ôh bida deungon basa
Atjèh. Njang peunténg keu geutanjoë djinoë pakriban ta teumuléh basa Atjèh
deungon huruh latèn hingga leubèh mudah bagi geutanjoë untôk ta peutamong lam
Internet dan Forum Internasional. Nibak tuléhsan-tuléhsan njan dan meungingat keu
lidah alfabet di dônja djinoë maka lôn tjok saboh peuneutôih ngon ta peumudah keu
geuneurasi Atjèh djinoë bak geuteumuléh basa Atjèh deungon huruh-haraih lagéë
njang akan lôn tuléh dimijub njoë. Teuntèë bagi droëneuh njang ahli-ahli éleumèë
basa (philology) le that pat djeuët neupeubutôi. Hana peuë, kritik njan tjit peureulèë,
mangat djeuët geutanjoë leubèh got lom, leubèh djroh. Njang sampôreuna that
meudéh panè na roë. Geutanjoë manusia teuntèë na kureuëng. Njang peunténg ta
mulai. Meungjo hana ta peuphôn, panè na pat ta peugot dan hana pat bak ta
peusampôreuna.
Stockholm, 10 Ramadhan 1419 H
Dr. Husaini Hasan
Meuntroë Peundidékan Neugara Atjèh (lam peungaséngan)


Tjara teumuléh basa Atjèh
Huruh-haraih Atjèh ta bagi duwa, njakni Huruh hudép (vocal) dan Huruh maté.
(consonant).
I. Huruh hudép: A, I, U, È, O.
Njang peunténg nakeuh limong boh huruh njoë.
Miseuë:
A: A(tjut-kak, tjuda, tjupo Abu, ajah,
abah, abi(ureuëng thjik agam) Apa(adoë jah, adoë ma)
I: Iku(iku leumo), Inong(ureuëng inong)
Gaki, Rapa-i, ruti
U: U, boh u, bu, ubat, ulat, madu, sibu
È: Bèk, hèk, èk, nèk
O: moto, toto, kuto, butjho
Nibak huruh E njoë djeuët tabagi keu lhèë boh huruh hudép treuk njakni e, è, é

Miseuë:
e: rajek, ba-e, tahe-gante,
è: bèk, èk, hèk, nèk, palèë, batèë
é: maté, baté, panté
'Oh lheuëhnjan teuma su lam hidông nibak huruh hudép njoë njakni 'A, 'I, 'U, 'È,
'O

Miseuë:
'A: moë meu-'a-'a, 'ajéb, meu'aih, peu-'ab
'I: moë meu-'i-'i, 'iëk
'U: su meu-'u-'u lagéë su kapai- pho
'È: Pa'è, la'èh, ku'èh 'O: meu'oh, tu'oh,
'Oh lheuëhnjan teuma
gabôngan E ngon U djeuët keu EU, lagèë:
Eu: eu, keu, teuma, seuma, seumah, keumah, beukah,
Teuma lom na gabôngan EU ngon Ë djeuët keu EUË, lagèë:
Euë: euë, tjeuë, rheuë, beuë, keubeuë, bubeuë, panteuë.
Dan su lam hidông nibak 'euë, 'eu, 'e, lagèë:
'euë: sinjak ka djeuët dji 'euë.
'eu: bèk ka 'eu beurangkaho meunjo kah hana muphôm
'è: Pa'è, La'èh, ku'èh
Nibak O na 2(duwa) matjam , njakni O dan Ô, lagèë:
O: moto, kuto, butjho, katjho,
Ô: laôt, patôt, tutông, tulông, dalông, budôk, pakhôk
Gabôngan nibak huruh hudép njoë deungon Ë bak hudjông.

Lagèë:
Ië: leupië, upië, Pidië
Èë: lagèë, malèë, palèë, badjèë, gukèë, gutèë, Abèë, rudjèë.
Oë: paloë, badjoë, manoë, peutoë, gigoë, rampagoë
Uë: uë, uët, buët, pruët, kuët
II. Huruh Maté (konsonant) Atjèh:
Meubida batjut deungon huruh konsonant Meulaju
leubèh2 bak huruh 'S', su djih leubèh leumoh batjut deungon udjông
lidaih lam ruweuëng gigoë, lagèë: sa, beusoë, sép, seumah, santeut, seutot.
Lheuëhnjan na gabongan 'S' ngon 'J' njakni Sj,
lagèë ( ) lam basa 'Arab, atawa 'Sh', lam basa Inggréh (shame, she, shoot),
miseuë: sjaitan, sjarikat, meusjén, syèëdara; atawa 'Sk' lam basa Svenska (skillnad,
skinka, skilja).
Gabôngan huruh maté deungon H,
lagèë : bh, dh, kh, lh, ph, rh, th
miseuë: Bhaih, bhôi, dhiët, dhôi,khiëng, kh'èb, khôb, lhèë, lheuë, phang-phoë,
rhuëng, rheuë, thô, thèë (kalon lom lam huruh gabôngan)
Huruh Maté Basa Atjèh Na: 18 huruh maté
nyakni: B, D, F, G, H, Y, K, L, M, N, P, Q, R, S, T, C, J, Z dan 10 huruh gabôngan
nyakni: bh, dh, kh, lh, ng, ny, ph, rh, sy, th.
B: Batja, basa, bui, buta, bila, blôh, bulôh
D: Dada, dawa, duwa, do'a, adék
Dj: Djandji, djeungki, idja, badjèë, rudjèë, djambèë, djambô, djudô
F: Fatimah, Faridah, Khalifah,
G: Gagah, gôgah, gigoë, gusi, gutji
H: haba, hakim, haté, huteuën, hudjeuën, hitam (h) dikeuë huruh hudép biasa
gadoh su (h) nyan lagèë: hudjeuën ta batja udjeuën hitam ta batja itam haté ta
batja até huteuën ta batja uteuën hutang ta batja utang lagèë basa Inggréh hour
geubatja awe honour geubatja ane
J: Jakin, Jasin, baja, buja, kaja
K: Kala, katja, kuta, kah, kèë, gaki,
L: Lalat, laloë, leumo, limong, leumoih.
M: Malam, malang, mamplam, mumang, manjang , minjeuk, mom
N: Nam, nan, nun, peukajan, piasan.
P: Paké, panté, puténg, peunténg, keuripèp, mupèp-pèp
Q: Quru-an
R: Raba, rasa, rô, rôh, brôih, rimuëng, rhuëng, kruëng, truëng, triëng, kariëng ,
rhéng, karéng,
S: Salang- saléng, sôsah-seunang, sakét, sungkét, sa, sah
T: Tabi'at, ta'at, tabak, tapak, tuha, tuka, tu'èt
Tj: Tjamtja, puntja, guntja. tjabak, tjutja, tjuma. Tjinta, tjintra, tjeurana. gutji, bantji,
guntji
Z: Lazat, zat, zamrut, Zamri, Azimar
10 Huruh gabôngan:
Bh: Bhaih, bhôi, su meubh'ôih-bh'ôih.
Dh: Dhoë, dhiët, dhôi
Kh: Kha, khô, khiëng, kh'èb, khôb, khuëng, kheuë, kheuët, khanduri, eungkhoë
Lh: Lhèë, lhiët, lhuë, lheuë, lheuëh, meulho, lhob, lhôk, lhi
Ng: Ngeut, ngiëng, bingong, bungong, inong, tungang, pisang, mumang
Tr: Triëng, truëng, kruëng
Nj: Njak, njan, njoë, njata, njang, manjak, minjeuk, manjang
Ph: Pha, phang-phoë, pheuët phét, muphôm
Rh: rhô, rhéng, rheuë, rhuëng, rhup
Sj: Sjaikuna, sjèëdara, sjèëtan, sjarat, sjèch,
Th: Tham, thô, that, thèë


Narit peunutôp

Peukara huruh "J, Tj,SJ" njang ladôm ureuëng geutanjoë ka biasa geungui huruh
Y,C,SY atau SH, sibeutôi djih njoë nakeuh loghat alphabet Inggréh. Njoë
geupeuphôn lé Tengku Apa Melaju di Malaysia, 'oh lheuëh droëneuhnjan didjadjah lé
Inggréh maka peungarôh keubudajaan dan tjara hudép bangsa Inggréh ka
meukeumat that lam tjara hudép droëneuhnjan. Meunantjit tjara meututô dan
teumuléh lam basa melaju.

Hèk that ta deungo aneuk miët melaju lam sikula watèë di hidja alphabet "
a,b,c,d,e,f,g,,,dst. " watèë djingui huruh njan lam narit ka meulaén su. Miseuë narit
"apa", huruh "a" bak phôn dan bak teungoh ta batja "a", meutapi huruh "a" bak
keuneulheuëh ka ta batja "e"; dan bak watèë ta hidja ka djeuët keu "é". Teuma lom
huruh "c". Lam narit meutuléh "c" ta batja "tj", watèë ta hidja ka djeuët keu "si".
Meunantjhit deungon huruh "y" dan "j", bandum njan peungarôh basa Inggréh lagèë
nan awak Inggréh "JOHN" hanja sistém Inggréh njang batja njan deungon "Djon",
awak Beulanda, Djerman, Skandinavia, dan le lom laén hana djikheun lagèë awak
Inggréh kheun, meutapi djikheun "Jon" . Di awak Indonosiai njan tjhit hana pendirian
droëdjih, didjak seutot mantong peuë njang ka djipeugot lé awak Malaysia deungon
didjak ubah alphabet basa Melayu lagèë lôn meutjeukot diateuëh. Peuë lom siumu
bangsa-bangsa Melayu di Nusa Tuëngara njoë ka rhet djimijub dominansi bangsa
Djawa maka le that narit-narit basa Djawa ka djitamong lam basa Melaju, miseuë
"orang" ka djeuët keu "wong", gila kadjeuët keu "eddan". Dan dalam marit ka le that
djitamong unsur-unsur "dong", "dèh", "sih" dsb.

Tanda-tanda pendjadjahan Djawa siumu "Meurdéka sisat thôn 45 njan pih le deuh
lam basa Atjèh lawét njoë miseuë "Geutjhik" kadjeuët keu "Lurah", "Mukim" kadjeuët
keu "Camat", "Tengku Apa" kadjeuët keu "Lék-lék, "Abu", "Ajah", "Tengku", bandum
kadjeuët keu "bapak".

Trôih bak Tantra TNI-POLRI njang poh bangsa geutanjoë Atjèh ka tadjak kheun
bapak, peuë meusabab deungon ka djih tjok ma geutanjoë lé djih!?, na'uzubillah.
Basa Geutanjoë Atjèh hana peuë tadjak tuka alphabet atawa narit basa Atjèh,
deungon sistem teumuléh tjara Inggréh, kadjeuët lagèë awai njang ka na. Lagèë
meutulèh diateuëh. Djinoë ka ta tukri pakriban tjara teumuléh basa Atjèh, maka ka
djeuët ta mulai ladju teumuléh lam basa droë-teuh. Bèk ta piké lé keu salah han
keunong, atawa teumakôt teuh djikheun lé gob.

Le ureuëng njang dji peugah mantong atawa dji kritik mantong, djipeubuët tan. Basa
nakeuh djiwa bansa. Basa Atjèh nakeuh basa droëteuh bansa Atjèh. Basa Ma-Ku
geutanjoë njang ka geupulang nibak Endatu geutanjoë Atjèh keu geutanjoë aneuk
tjutjo. Darah bansa Atjèh le that ka rhô bak geupeutheun marwah bangsa dan basa
Atjèh njoë. Geutanjoë Atjèh keuh nyang peuteuntèë pakriban njang got keudroë-teuh
dan toh njang peureulèë keudroë-teuh, hana peureulèë tadjak meutirèë-tirèë bak
gob. Geutanjoë ureuëng peugot seudjarah, kon ureuëng tuléh seudjarah.
Wassalamu'alaikum warahmatullah.
---

Tulèhsan peiungat


PEUINGAT UROE RAJEUK

Assalammualaikum wr wb..

Saleum seudjatra ukéuë sjèëdara mandum bangsa atjèh pat – pat mantoëng na  ban sigôm donja,seulaweut meuirèng saleum Atèuh Rasul ambiya Nabi muhamammad SAW.Lam Tulèhsan njoë lôn neuk peutrang biok peukara keu geutanjoë khusus djih bangsa atjèh njang mulia dalam su èuë nibak ta peuingat uroë-uroë rajek
Thôn meugantoë thôn mmeusamboeng dari geuneurasi keu geunerasi geutanjoe bangsa atjeh ka meu udep ie miyup ideology gob dan geunerasi geutanjoe ka geuteurimoëng pèndidikan dari njang hana djeulaih (Hindunisia) njang ka saban ta tupèuë le geutanjoë njang meuseubab hana djroeh keu geunerasi tanjoë dan chit seulama djih han saban pham ngoen geutanjoë bangsa atjèh  miseu mantoeng ta tjakin droë teuh saboh bangsa njang mulia ateuh rueng dunja njoe .
Karap 80% bangsa atjèh uroë njoe ka gadoeh identity,ka hana meusoë droë le,ka meu budaya atawa meu ideology deungoen ideology njang ie keubah le musoh ka ta ngui le geutanjoë,ka hana lé ta ngui péuë-péuë mantoëng njang ka geu keubah le indatu teuh meunan chit dalam hubungan social antara droë keu droë uroë njoe hana soe pakoe lè ka doek mandum ie peulamiet lè musoh njang njata deuh ikeu dan lam seulimboet dum.
Padim – padim droë ureng teuk sagai njang tem peureumèun peukara atjèh uroë beu meu ulang lagè masa dilèë deungoen djalan tanjoë tuntuk hak teuh lakè kebebasan tapi geutanjoë rakjat uroë njoë mandum seumah pue njang ka njata iè peu ancoe geuntajoë deungoen tjara njang muslihat, djaroe-djaroe peundjadjah ka leubèh panjang uroë njoë iè atjèh deungoen na peurahoë pulitèk lagèë meutulèh lam ayat hantu MoU Helsenki
Bangsa Atjèh njang meutuah, kon uroë kartini njang suah ta peurajeuk tapi geutanjoë na Cut Njak Dhien, Cut Mutia dan lè lom njang laen, kon G 30/S PKI njang suah ta keunang tapi geutanjoë na uroë keudjadian njang leubeh keujam lom nibak njan njang ie peulaku le PKI mirah putih dan aneuk djih njang na ie aceh uroe njoe, hana perlè lè hai bangsa lôn tanjoe djak seumah 17 Agustus, njan keuh uroë siai keu geutanjoë bangsa Atjèh
Geutanjoë na uroe droë teuh njang njang suah ta peurajeuk keu ta peuingat geuneurasi akan uroë-uroë Nasional Atjèh, njang mandum njan na kekuh keu tjara geutanjoë keunang djasa-djasa indatu geutanjoe dari masa Beulada sampoe troek lam reugam Tentara djawa hindunisia keu geutanjoe mandum bangsa atjèh
Keu seubab njan keuh uroe-uroe rajeuk njang ta peuingat le geutanjoe na 3 boh bab, njakni Agama, Nasoinal Atjeh sereuta Day International,Lage Di miyup Njoe :
  • Agama
    • 24 Januari (12 Rabi'ul Awal) Molôd
    • (27 Radjab) Isra' Mi'raj
    • (1 Ramadhan) Uroë Phôn Puasa
    • (17 Ramadhan) Uroë Phôn Trôh Al-Qur'an
    • 9-10 August (1 Sjawal) Uroë Raja 'Idul Fitri
    • 15 Oktober (10 Zulhijjah) Uroë Raja 'Idul Adha
    • 4 November (1 Muharram) Thôn Barô Hidjrah
    • 13 November (10 Muharram) Uroë Ashura
  • Nasional Atjèh
    • 26 Mart Seurangan Beulanda
    • 5 Mai Tragedi Simpang KKA (check)
    • 3 Juni Uroë WN
    • 23 Juli Tragedi Beutong Ateuh (check)
    • 4 Désèmbér Uroë Milad AM
    • 26 Désèmbér Uroë Tsunami
    • 25 Januari Uroë Sjahid Tgk Chik di Tiro
Januari 25 Tengku Chik di Tiro (Uroë Syahid Teungku Chik di Tiro, 1891)
Januari 28 Mahmud Shah (Uroë Syahid Sultan Mahmud Syah, 1874)
Februari 11 Cut Nyak Dhien - Teuku Umar (Uroë Syahid Teuku Uma, 1891)
Mart 26 Prang Aneuëk Galông (1896)
April 23 Uroë Pahlawan (Prang Banda Acèh, 1873)
May 21 Prang Gunong Alimon (1910)
September 5 Prang Aluë Simi (1910)
Desember 3 Prang Aluë Bhôt (1911)
Desember 27 Iskandar Muda Uroë Wafeut Iskandar Muda, 1639
·         Internasional
o    1 January New Year
o    1 May Labour Day
o    3 May World Press Freedom (check)
o    20 June World Refugee Day
o    9 August World’s Indigenous People (check)
o    12 August Youth Day (check)
o    24 October UN’s Day
o    10 Désèmbér Human Rights Day

Meumada njoe keuh tulèhsan peuingat keu mandum bangsa lôn dan that djroeh serta that lôn harap lam uroè Nasional Atjèh geutanjoë bangsa Atjèh djeut tadjoek  inisiatif  dan kontribusi geutanjoë ta peugoet peuë – peuë mantoeng atjara atawa tulèhsan njang meusifeut positif ngat deuh leumah geutanjoe bangsa Atjèh  tatèm ingat dan sambong keu lai tjita-tjita njang goh troek keu bangsa Atjèh ….amin

Malaja,29/4/2013
Musafir
Sèkrètariat Asnlf Malaja