Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang terhadap Aceh. Sejarah
kelam yang merupakan awal terjadinya kekerasan di wilayah ini. Bermula ketika
JF Nieuwenhuijzen dalam kapasitasnya sebagai Komisaris Pemerintah Belanda
datang ke Aceh pada 19 Maret 1873. Ia bersama armadanya yang terdiri dari Kapal
Citadel van Antwerpen diiringi kapal perang Marnix, Coehorn, dan Siak, berlabuh
di pantai Cermin, Ulee Lheue, Kutaradja (sekarang Banda Aceh),
Pada 22
Maret atau empat hari sebelum maklumat perang itu dikeluarkan, Sidi Tahir,
pegawai Belanda diutus ke darat untuk menyampaikan surat Nieuwenhuijzen kepada
pemimpin Aceh, Sultan Alaidin Mahmudsyah. Dalam surat itu, Belanda minta
Kerajaan Aceh menghentikan hubungan diplomatik dengan para konsul asing di
Singapura dan menawarkan suatu perundingan baru antara Aceh dengan
Belanda.
Menurut
catatan perang pemerintah Belanda secara resmi, kekuatan yang diturunkan untuk
membumihanguskan Aceh adalah dipimpin oleh Jenderal Mayor JHR Kohler, yang
membawahi tiga batalyon tempur infantri yang dikomandoi oleh Kolonel van Daalen
dibantu oleh Mayor FP Cavalje. Jumlah kekuatan angkatan darat seluruhnya 168
opsir, 3.198 serdadu yang terdiri dari 1.098 orang Belanda dan 2.100 orang
Indonesia dari Ambon, Menado, Jawa dan lain-lain, 31 kuda perang untuk opsir,
149 kuda untuk serdadu, 1.000 orang hukuman, 220 perempuan tidak bersuami, 8
bersuami dan 300 buruh.
Kekuatan
angkatan laut terdiri dari kapal perang Jambi dengan 15 opsir, 200 serdadu
Belanda, 41 serdadu dari Nusantara, 8 pucuk meriam tarik ukuran 16 cm, 8 pucuk
meriam lainnya dan mortir. Kapal perang Citadel van Antwerpen, dengan 15 opsir,
185 serdadu Belanda dan 41 serdadu Indonesia asli. Kapal perang Marnix dengan
11 opsir, 110 sedadu Belanda dan 57 serdadu Indonesia asli. Kapal perang
Soerabaja dengan 8 opsir, 130 serdadu Belanda dan 57 serdadu dari berbagai
daerah di Nusantara. Kapal perang Coehoorn dengan 5 opsir, 65 serdadu Belanda
dan 23serdadu Indonesia asli.
Kapal
Soematera dengan 6 opsir, 75 serdadu Belanda dan 30 serdadu dari berbagai
daerah Nusantara. Kapal ini membawa 1 Landings divisie dengan 14 opsir, 1 opsir
laut, 152 matros dan 116 marinir. Diperkuat dengan 4 houwitser, 1 meriam tarik,
11 mortir yang dilayani oleh 3 opsir dan 47 serdadu bawahan. Kapal Siak dengan
8 opsir dan 45 serdadu Indonesia asli. Kapal Bronbeek dengan 8 opsir dan 35
serdadu Indonesia asli.
Pada 8
April 1873, Panglima Angkatan Bersenjata Hindia Belanda di Batavia, Letnan
Jenderal FJ Kroesen memerintahkan Jenderal Mayor JHR Köhler untuk memimpin
penaklukan Masjid Raya dan istana kesultanan Aceh. Namun nahas baginya dimana
pada Kamis sore, 10 April 1873, di sekitar Masjid Raya Baiturrahman terjadi
pertempuran sengit bahkan masjid ini terbakar. Melihat api menjilati mesjid,
rakyat Aceh marah ingin mempertahankan marwah masjid raya ini, sebutir peluru
yang dibidik dari jarak jauh mengena tubuh jenderal Köhler dan dia tersungkur
berlumuran darah. Pada 17 April 1873, Nieuwenhuijzen meminta persetujuan
Batavia supaya seluruh pasukan ditarik kembali ke Jawa.
Awal lahir kekerasan
Ini merupakan suatu sejarah yang mungkin semua pembaca
sudah mengetahui latar belakang maklumat perang Belanda terhadap Negara Aceh. Hari ini, 23 April 2013, 140 tahun Aceh telah melewati
masa pahit tersebut, bahkan sampai terkekang kembali dalam kerangkeng "Indonesia" yang telah menabuh
perang puluhan tahun dan juga telah ribuan masyarakat Aceh terbunuh di ujung
senjata serdadu Indonesia.
Begitu banyak pahlawan
–pahlawan Aceh yang telah berkorban tapi tidak pernah di hargai, semua ini
dikarenakan kita bangsa Aceh telah hilang jati diri dan sikap kebangsaan.
Bangsa Aceh hari ini seperti yang saya tulis di atas, sudah terbelenggu
hidupnya dalam sebuah Negara buatan yang mempunyai sistem yang salah, di mana
korupsi, kolusi dan nepotisme telah mendarah dingin dalam keseharian.
Sebagaimanapernah
diucapkan oleh Tgk. Hasan di Tiro (alm) dalam bukunya "A New Birth of Freedom", yang diterbitkan di
New York, Amerika Serikat, pada tahun 1965, menyebutkan, "Sejarah
memang bukan untuk menguasai masa silam, tetapi dengan sejarah kita masih dapat
menguasai masa depan". Kita
sudah sepatutnya mempelajari sejarah bangsa kita, walaupun tidak menguasai
semuanya, tapi setidaknya kita tahu bahwa kita punya Negara, punya pemerintahan
sendiri, punya bahasa dan punya pahlawan-pahlawan hebat yang telah banyak
memberikan kontribusi untuk Negara Aceh, bahkan nyawa mereka korbankan untuk
kemushalatan rakyat Aceh
Marilah kita buka mata dan hati kita bangsa Aceh,
agar kita tidak kehilangan jati diri dan nama kita di atas peta dunia. Tunjukkan,
bahwasanya kita masih memiliki semangat sebagai mana yang telah ditunjukkan
oleh pendahulu kita waktu membidik kepala daripada Jenderal Mayor JHR Kohler pada Kamis sore, 10 April
1873 di sekitar Masjid Raya. Hari ini 140 tahun masa itu telah berlalu, kita
kuatkan kembali semangat agar mampu melahirkan pahlawan-pahlawan Aceh pada
generasi sekarang dan masa depan untuk melepaskan diri dari kezaliman ini,
serta untuk merebut kemerdekaan Aceh.
Saya akhiri tulisan ini dengan mengucapkan surat
Al-fatihah (demikian pula hendaknya pembaca) untuk semua pahlawan-pahlawan Aceh
yang telah mempertahankan Aceh. Tentu saja kita masih harus melanjutkan
perjuangan ini dalam menuntut hak kita. Semoga ALLAH sentiasa melimpahkan rahmat dan hidayah
kepada semua bangsa Aceh, khususnya kepada pahlawan-pahlawan yang telah syahid
agar di tempatkan di tempat yang layak di sisi ALLAH SWT.
Malaja, 23 April 2013
Musafir Atjeh
Ketua Perwakilan ASNLF MALAJA
No comments:
Post a Comment